Tuesday, 21 February 2017

Ambil alih jempol dari pinggir jalan

pixabay.com
Hamparan Lautan terlampau luas untuk diarungi dan terlalu dalam jika menyelam lebih jauh ke dasar. Pijakan daratan nan hijau terlalu lembut dan menyejukkan dalam kalbu. Percayalah, jika sebuah tongkat kayu yang sengaja maupun tak sengaja dijatuhkan,  akan menjadi hidup. Tak terhitung lagi berapa jumlah bekas jejak di negeri ini. Melewati daratan, perairan maupun udara. 

Perjalanan kami yang kedua di hari yang sama. Melepaskan hiruk-pikuk perkotaan yang membosankan. Bukan di saat akhir pekan, namun di awal pekan kami memulainya. Dan kemudian menyudahi di akhir pekan. Sehingga terbebas dari berbondong-bondong orang yang pergi melepaskan penat dan kebosanan yang sama dengan kami. 

Kami mencari tempat untuk memuaskan rasa penasaran kami. Seperti apa barisan pepohonan yang banyak dibicarakan. Bukankah untuk mencari barisan pepohonan itu adalah hutan? Pergi saja ke hutan terdekat, di sana kau pasti akan menemukannya. Memang hutan, namun bukan sembarang hutan. Bagaimana jikalau hutan terdekat menyeramkan? Semisalnya di dalamnya dihuni bermacam hewan buas, makhluk alam lain yang mungkin tak kasat mata. 

Tak ada jaminan untuk kembali jika asal masuk. Masuk ke dalam hutan yang liar itu bukan soal nyali, namun lebih kepada seberapa luaskah pengetahuan geografimu. Semisal penggunaan kompas, arah angin, tidak buta arah, terbiasa dengan alam bukan perkotaan. 

Angkutan kota dari tempat pertama yang kamu kunjungi  menuju tempat tersebut sangat jarang. Di buat menunggu adalah suatu hal yang menjengkelkan. Adalah membunuh waktu yang sangat membosankan pula. Tak mungkin juga kami berjalan kaki jauhnya di pinggir jalan yang berkelok-kelok naik-turun. 

Kami putuskan untuk mengangkat jempol kami di pinggir jalan. Demi mendahului senja kami harus secepatnya bergegas. Beberapa kendaraan yang melintas tak menghiraukan gerakan jempol kami, terlebih lagi mobil pribadi. Kami hanya mengharapkan kendaraan dengan muatan kosong di belakangnya melintas dan berhenti. Namun jarang sekali, tanpa adanya muatan. Terlebih lagi kami memang mengarah ke kota. Jadi lebih sering kendaraan dengan muatan penuh melintas. 

Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pickup mungil tanpa muatan melintas dan berhenti. Membiarkan kami sebagai isi muatannya. Satu dari kami di depan, menemani dan mengobrol santai dengan seorang Bapak baik hati. Sisanya meringkuk, duduk bersila di belakang. 

Lumayan jauhnya dan beruntungnya menuju tempat tujuan, rutenya memang kebetulan searah dengan pickup yang kami tumpangi dan pada akhirnya sampai. Kami melihat tempat tujuan dari luarnya saja sudah buru-buru ingin masuk ke dalam. Barisan pohon, tepatnya lebih banyak pohon pinus yang menjulang tinggi. Hasil kreasi murni dari alam dan sedikit campur tangan manusia, hanya untuk menjadikan akses tersebut mudah saja. 

Namun sayang, kami hanya bisa menikmati hanya sajian dari luar sekilas saja, tidak lebih dari itu. Tidak bisa menelusuri lebih dalam lagi. Karena alasan cuaca yang memang buruk, tempat itu sedang ditutup untuk sementara. Kekecewaan kami kompak, namun hanya beberapa saat. Kami bergegas karena hari sudah mulai gelap. Kami mencari penginapan untuk tujuan esok hari, penginapan yang terdekat dengan tujuan esok hari lebih tepatnya. 

Salah satu dari kami ingin mengangkat jempol dan menggerakkan dari pinggir jalan. Namun kemudian diurungkan. Karena tempat tersebut sudah tak asing dengan angkutan kota yang melintas.

Friday, 10 February 2017

Surat Yang Berbeda

Rinai hujan telah memudar, menyisakan rintik yang menitik pada sore itu. Sebagian buihnya singgah di atas talas yang terapung dalam kolam. Sisanya memilih menjadi genagan, perlahan tenggelam dalam tanah. Perlahan angin merayu bunga kenanga kuning yang setengah kuncup, agar segera mekar. Resah berulang dalam hati, dari balik jendela kaca yang berteralis merah. Bukanlah hujan mereda yang ditunggu Scania.
Senja yang hampir kemerahan di langit, juga bukan hal yang dinanti. Namun perlahan kedua pipinya merona kemerahan. Ketika melihat seseorang datang menuju ke rumahnya. Sekali lagi, Scania menunggu dan memastikan suara ketukan pintu itu di rumahnya. Seseorang dengan pakaian oranye memberikan sebuah amplop map cokelat, memastikan nama serta alamat yang dituju lalu menyerahkanya pada Scania.
Scania yang tersenyum, pipi dari gadis yang berambut panjang itu semakin kemerahan. Terukir nama untuknya, Scania Putri Saraswati. Di bawah nama darinya, Bias Rangga Purnama. Gadis berambut panjang itu kemudian membuka amplop, di dalamnya berisikan satu amplop kecil berwarna putih dan sebuah pena berwarna biru. Bagian muka dan punggung amplop kecil itu bersih, tak tercoreng tinta. Sebuah pena birulah yang bertuliskan sebuah nama yang tak asing baginya.
Setengah hati Scania menelisik, membaca isi dari amplop kecil putih. Seketika itu juga mendung dalam hatinya, dari rangkaian kata tersusun rapi. Menanyakan kabar untuknya hanya sekilas, kemudian beralih bukan untuknya. Scania tak kuasa mengisak, entah itu terluka atau harus bahagia.
Hanya sampaikan sebuah salam, namun apa daya rasa yang terlanjur dalam. Seluasnya lautan, kini cerianya hanya sebatas genangan. Ketika malam yang bertabur bintang, mengelilingi bulan yang masih meredup. berat kaki untuk melangkah, tak kuasa untuk mengucap. Namun jangan sampai mengisak. Menyerahkan sebuah pena dan isi amplop kecil putih pada seorang gadis lain di rumahnya. Gadis dengan wajah serupa denganya, berambut panjang dan berpita biru. Senyum menyamarkan kesedihan di wajah Scania. 

Evalina Putri Saraswati, tertulis di pena biru itu.

Artikel ini dapat dibaca juga di: Idntimes


 

Tuesday, 31 January 2017

Kirana Kecil Untuk Rara

Sama seperti pada hari-hari sebelumnya, di sekelilingnya terlihat biasa saja. Padahal Rara sangat mengharapkan, namun hanya sanggup bicara dalam hati. Dia pikir tak mungkin ada yang mengingatnya, terlarut dalam pekerjaan hingga langit berubah kemerahan. Menjelang pagi hingga menyambut senja. Wajah muramnya semakin menyatu dengan senja. Guratan di keningnya semakin jelas terlihat. Pada sore itu wajahnya bersaing dengan tenggelamnya matahari. Jelas ada yang menggangu pikirannya.
Rara bilang ada sesuatu yang dia tunggu, ketika hatinya tak henti mengajukan pertanyaan yang sama. Harus bagaimana lagi dan sampai kapan Rara memperlambat langkahnya. Langkah dari gedung tinggi menjulang itu menuju ke tempat kosnya. Biarlah waktu yang bertugas untuk menimang, menunggu kesabaranya sampai di mana.
Rara enggan meraih gagang pintu kamar kosnya. Dengan wajah lesunya dia sebenarnya ingin segera membenturkan tubuhnya ke kasur, dan terbenam. Namun, dalam pikiranya masih merangkum bagian pada hari ini. Apakah ada sesuatu yang aneh pada hari ini? Pikiranya masih terus merangkum. Jelas, tidak ada sesuatu yang aneh pada hari ini. Lantas bagi Rara, sesuatu yang aneh itu akan menjadi suatu hal yang dia tunggu pada hari ini. Hari ini terlihat sama seperti hari sebelumnya, biasa saja.
Hari ini, seperti musafir yang tersesat di rimba bagi Rara. Wajahnya lesu, bukan pucat. Tanganya segera meraih gagang pintu dan memutarnya. Layaknya memutar kemudi truk besar baginya, terasa berat sekali. Rara pun segera membenamkan tubuhnya di kasur tanpa menyalakan lampu. Wajah lesunya terlihat tak berlangsung lama, ketika lampu kamar tiba-tiba menyala. Kemudian wajah lesunya bersembunyi. Mata Rara baru beberapa detik-detik terpejam. Matanya masih mengakap cahaya sedikit demi sedikit, masih menyesuaikan. Tak lama berselang, kini telinganya yang harus terbiasa dengan suara cempreng yang tak karuan. Terkejut bukan kepalang pasti rasanya.
Nyanyian dari kami dan teman kantor lainya bersenandung tak karuan pada Rara. Kemudian lelahnya semakin tertutup oleh semangatnya. Dalam pikirannya masih merangkum bagian yang tertinggal hari ini. Nyanyian kami hampir usai, bersamaan ketika Rara mendekat ke arah kami. Sambil menyodorkan kue yang berpucuk lilin, nyanyian kami usai dan Rara meniup api di puncak lilin.
Selamat Ulang Tahun Sahabatku, Rara. 

Artikel ini dapat dibaca juga di: Idntimes

Thursday, 19 January 2017

Cerita Dari Dalam Rahim Menuju Buaian

Sebuah cerita singkat yang mungkin tak sarat akan makna. Namun jikalau engkau bertanya tentang rasa, Aku tidak bisa mengajak kalian bersama untuk melihat masa yang telah berlalu. Semua tergantung dalam imajinasi dan hati terdalam kalian. Mungkin kata imajinasi belum sempurna untuk menggambarkan ruang dalamnya kisah. Kenangan, kesan, ingatan, memori, mungkin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kalian pasti akan kesulitan mengambil jauh entah itu kenangan, kesan, ingatan ataupun memori. Seberapa jauh mengingat, ingatan itu tidak bisa menembus sampai jauh ke dalam. Tidak ada lorong waktu untuk membalikkan waktu yang telah berlalu.
Ketika sepasang calon Ayah dan Ibu menantikan kehadiran putra pertamanya. Terlebih lagi bagi seorang ibu. Waktu 9 bulan bukanlah waktu yang singkat. Tanpa peduli setiap bulan merasakan bertambahnya berat badan, bahkan 2 kali lipat. Ketika berjalan terasa berat, ketika duduk tak bisa membungkuk, bahkan ketika tidur pantang telungkup. Belum lagi kepala yang tiba-tiba pusing dan perut terasa amat mual, tanpa peduli tempat dan waktu.
Dari kacamata seorang Ayah yang penuh wibawa dan tegas, di dalamnya mungkin sedikit rapuh. Melihat istrinya pulang pergi mengajar seperti biasanya. Permohonan aneh pada tengah malam hari, tak kuasa ditolak Ayah. Seorang Ayah rela mengabulkan permohonan tak biasa dari Ibu. Memukul atau menendang dari dalam, itulah yang biasa dilakukan olehku ketika berada di dalam dinding perut Ibu. Permohonan aneh itu bukan kehendak Ibu. Akulah yang merunguk tanpa suara dari dalam dinding perut Ibu.
Ketika 1 minggu lagi bulan keenam menggantikan bulan kelima, Aku menyapa dunia. Seorang Ayah yang menantikan jagoan pertamanya. Untuk sementara, tuntas tugas seorang Ibu. Ibu harus berjuang lagi untuk memulihkan kondisi fisiknya dengan istirahat yang cukup. Dengan mata yang masih tertutup, jari-jari yang lemah dan tubuh bernoda darah. Tubuhku langsung dipindahkan ke dalam kotak. Kotak itu adalah inkubator khusus untuk bayi prematur.
Ya, aku lahir prematur. Berat badan lebih ringan dibanding bayi pada umumnya. Perlu perawatan khusus. Organ-organ dalam, mungkin belum terbentuk layaknya seorang bayi pada normalnya. Masalah pernapasan pada bayi prematur harus ditangani, dengan membutuhkan oksigen yang lebih banyak tentunya. Secara rutin perawat memeriksa berapa kali denyut jantung dalam hitungan menit. Selama beberapa minggu perawatan di Rumah Sakit, akhirnya Ibu membawaku pulang setelah mendapat izin dari dokter. Dokter memberikan beberapa catatan kepada Ibu, jadi tak harus berlarut-larut bergantung pada inkubator.
Perawatan berlanjut di rumah, rumah kontrakan lebih tepatnya. Tiap pagi seusai shubuh, Aku melayang. Melayang dalam buaianya. Jemariku yang begitu mungil menggenggam erat kain yang di sandang Ibu kepadaku. Di beranda, sinar matahari dan udara di awal pagi memberi kehidupan. Lebih luas daripada di dalam inkubator. Kemudian terus berulang berbulan-bulan lamanya. Belum lagi menghitung berapa kali tiap malam Ayah dan Ibu dipaksa untuk tetap terjaga. Hingga menginjak balita, pernapasan setiap kali dilatih. Tak boleh terlalu lelah, dan bukan juga terlarut di atas ranjang.
Hari ini dari balik meja, jemariku semakin lihai menuliskan kisah. Berkemeja lengan panjang dengan kaki dibungkus sepatu kulit berwarna hitam mengkilap. Hanya saja setiap kali mengambil kenangan itu, setitik buih hampir menggenang di kelopak mata. Padahal kenangan itu tidak bisa ditembus. Tidak ada yang aneh dan terlebih istimewa memang. Percayalah, jika masing-masing mengambil jauh sebuah kenangan yang tidak bisa ditembus itu dan kemudian pejamkan mata kalian. Dari sana akan menemukan ketulusan mereka. Jika kalian sedang mendekap dalam pelukan Ayah atau Ibu, cobalah untuk mengorek cerita darinya. Seberapa dalam lautan, tentunya dapat dikira. Dalamnya kasih sayang kedua orang tua adalah tanpa dasar. 

Depok, 19/01/2016

Artikel ini dapat dibaca juga di: Idntimes

Friday, 9 December 2016

Patung & Boneka

Serupa tapi tak sama
Kalimat itu terus berulang
Dipaksa mendengar
Tanpa berbalas kata
Jengah dibuatnya

Jika mungkin bisa bergerak
Kecuali dikendalikan
Layaknya dari seutas benang
Mengangkat sepasang bahu

Sungguh tak berdaya
Yang lainnya diperdaya
Lainya tanpa daya

Mereka memang bergerak
Namun tak sesuai
Keinginan dikubur dalam
Serupa tapi tak sama
Bosan tiap mendengarnya

Diantara dikendalikan
Dipaksa untuk bungkam
Adalah berbeda hal
Berbicara tanpa suara

Jakarta, 09/12/2016

Wednesday, 7 December 2016

Rupa Bayangan


Bagaimana sebuah rupa
Di balik bayangannya
Enggan menahan lupa
Namun terinjak ingatannya

Bila jarak terlipat
Dindingnya kian rapat
Sisa langkah berikut
Jangan diperlambat

Abaikan langkahnya
Bila di dalam gelap
Dengar tiap hentakanya
Jangan sekali pun terlelap
Dalam kehadiranya, dan dalam perpisahannya

Jakarta, 07/12/2016

Artikel ini dapat dibaca juga di: Idntimes

Tuesday, 6 December 2016

Hitam Dan Putih

Seperti gurun pasir
Bayangan begitu gelap
Dalam terik menyengat
Di celah pori kulit
Cairan tubuh menguap
Menumbangkan langkah kaki

Mengenang kisahnya dahulu
Seperti penyesalan tak usai
Dari balik dinding berjarak
Mata melihat telinga mendengar
Namun suara bungkam
Hati tak berdaya
Bersuara tanpa bicara

Beralih waktu ke waktu
Berbagi tentang rasa
Itulah yang dia bisa
Berkisah tentang masa
Dengan setengah pasrah

Melukis satu harapan
Sudah hampir habis
Warna warni macam tinta
Tersisa hanya kelabu
Di antara hitam dan putih

Depok, 06/12/2016

Saturday, 3 December 2016

Surat

Rinai hujan memudar
Sisa rintik menitik
Di atas talas terapung
Perlahan angin mengaduk
Resah berulang dalam hati

Sebelum senja kemerahan
Ikut merona di wajah
Pada seorang dekat kotak
Kosongkan dalam isinya

Dia yang tersenyum
Terukir nama untuknya
Di bawah nama darinya
Ada pena darinya
Tertulis bukan namanya
Mendung dalam hatinya

Setengah hati menelisik
Rangkaian kata tersusun
Dia tak kuasa mengisak
Entah terluka atau bahagia
Penanya bukan untuknya

Sampaikan sebuah salam
Apa daya rasa terlanjur dalam
Ketika malam bertabur bintang
Berat kata untuk mengucap
Namun jangan mengisak
Tuan pena adalah adiknya

Jakarta, 03/12/2016

Awal Pagi Lagi

Cahaya mentari di pagi hari merasuk
Sepasang jendela yang berkaca
Membias sampai ke dalam mimpi
Membuyarkan kenangan kembali

Terlalu cepat hari ini
Di waktu terlampaui
Pagi hari di selasar itu
Lain dahulu inilah hari ini

Bagaimana dirinya
Entah sendiri yang berkehendak
Atau sekedar tak enak
Atau apapun itu

Berambut panjang
Yang mungkin dikuncir
Namun disembunyikan
Di antara peluh keringat
Tetap disembunyikan
Dan napas yang terengah
Jelas sekali terdengar

Untuknya sampai hari ini
Tanpa mampu berkata lagi
Dalam hati yang mengeja
Dari dua pasang kaki
Mengatur setiap langkah
Di mulai setiap pagi
Entah mungkin yang terdahulu
Sampai hari yang lain berlalu

Depok, 03/12/2016

Artikel ini dapat dibaca juga di : Idntimes

Wednesday, 30 November 2016

Di Pelosok

Rambut memutih
Bukan pertanda menua
Tak jua lelah berkeringat
Kalaupun itu hujan
Tak jua pun berselimut
Kalaupun bukan terik

Kisah dari dalam
Dalam gubuk tanpa kaca
Di tengah batang pohon
Beratap meranting dedaunan
Di malam menepis angin
Menyilang bersedekap tangan

Pelosok begitu elok
Sebanyak cerianya
Bocah bocah nan polos
Bertelanjang dada
Mengalahkan kerinduannya
Beribu ribu kilometer

Depok, 28/11/2016

Wednesday, 23 November 2016

Rencana berjalan

Semua yang direncanakan
Pada awalnya mengalir
Tak terpikir sama sekali
Bahkan tak bisa disebut rencana

Memang tak terpikirkan
Membiarkan semua terus mengalir
Di lain hari, menerobos lorong
Yang belum pernah dilewati
Jarang dilewati
Sampai akhirnya terus melewati

Hingga dipertengahan waktu
Semakin dan mengerti
Penyesuaian mendekap
Bukan untuk maksud tentu
Hanya untuk beberapa jawaban
Meski tak ada tanya

Tak bisa di sebut rencana
Apa Itukah rencana?
Jika berjalan di tempat
Tak menentu waktu ditentu
Sekedarnya melihat
Bukan seluruhnya untuk digenggam

Depok, 23/11/2016

Tuesday, 22 November 2016

Kalayu

Tersembunyi di balik halaman
Sebuah buku bersampul cokelat
Nama yang pernah kau sebut
Namaku bergantung pada penamu
Seberapa banyak yang di tulis
Atau adakah nama lain di dalamnya?

Jika memang harus ditukar
Bolehkah dengan penamu?
Menuliskan satu baris kisah lagi
Tanpa kata bergaris tengah
Akan kembalikan suatu saat nanti

Seperti awan di langit
Terlempar diterpa angin
Jika itu putih
teruslah mengembang
Jika itu hitam
Menumpahkan air hujan

Jika memang harus ditukar
Kenapa memilih penghapus?
Tak memilih penamu?

Jika kemudian bertemu lagi
Lidahku enggan mengeja
Telah mengering tinta di pena
Hingga terlanjur layu rasa ini

Depok, 22/11/2016

Monday, 21 November 2016

Kosong

Angan angan menerawang langit
Menembus awan pun tak sanggup
Hendak lihai seperti kancil
Namun tingkah pun ganjil

Sama seperti gelepur
Kosong yang bertuah
Sedalam palung laut
Setinggi langit pun bicara

Di bumi yang di pijak
Di tempat yang berjejak
Beda rupa sama derajat
Ingatlah wahai tuan

Depok, 21/11/2016

Sunday, 20 November 2016

Gerimis

Ketika senja menggurau
Namun menusuk
Candanya kala itu
Membuat awan kemerahan
Menyayat rindu seseorang
Di depan bangunan tua

Menampak wajah dari kejauhan
Sebagian masih tertutupi
Oleh angin menderai di rambut
Basah tiada hujan
Menangis karena luka
Tersembunyi di ilalang
Ikut menjadi basah

Jika air mata terhenti
Gerimis kelaklah turun
Perlahan menjadi hujan
Tumpahkan kembali
Di kelopak mata yang mengering
Agar tak berbekas
Dari pandang telah memudar

Depok, 20/11/2016

Saturday, 19 November 2016

Waktu

Inikah waktu
Yang selalu berputar?
Hanya dikitari angka
Begitu kosong
Jika tak mengisinya

Inikah waktu
Yang selalu berputar?
Namun tak dapat kembali
Dalam masa lalu
Yang penuh penyesalan

Inikah waktu
Yang selalu berputar?
Tak mau menunggu
Apapun yang tertinggal
Kenangan sedikitpun

Inilah tentu
Yang buat kepastian
Jika ragu memudar
Di antara pilihan
Satu dua terabaikan

Depok, 19/11/2016